Sebuah Cermin bagi Ulama Negeri Ini
Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Dalam salah satu status Facebooknya, KH. Husen Muhammad menuturkan kisah
yang sangat menarik tentang Syekh Bahauddin Walad, ayah dari Maulana Rumi.
Melalui kisah tersebut, beliau mengajak pembaca merenungkan hubungan antara
ulama dan kekuasaan. Dikisahkan, ketika Syekh Bahauddin tiba di Baghdad dan
diundang Khalifah untuk singgah di istana, beliau justru meminta diantarkan ke
sebuah madrasah atau zawiyah. Dengan kalimat yang kemudian menjadi sangat
terkenal, beliau menegaskan, "Tempat ulama bukan di istana, tetapi di
madrasah." Kisah sederhana ini menyimpan pesan moral yang sangat kuat dan
tetap relevan untuk menjadi bahan renungan bagi kehidupan berbangsa hingga hari
ini.Madrasah di sini bukan sekadar bangunan sekolah. Ia melambangkan ruang
pengabdian kepada ilmu, pendidikan, pembinaan umat, dan kebebasan moral seorang
ulama. Dari tempat itulah seorang ulama menjaga jarak yang sehat dengan
kekuasaan agar nasihatnya tetap jernih dan kritiknya tetap didengar.
Ketika Khalifah kemudian mengirimkan hadiah berupa kuda, emas, dan perak,
Syekh Bahauddin juga menolaknya dengan penuh kesantunan. Bahkan beliau
mengingatkan bahwa penguasa yang hidup dalam kemewahan sementara rakyat masih
bergelut dengan kemiskinan layak menerima kritik, bukan pujian. Sikap seperti
ini menunjukkan bahwa kehormatan seorang ulama tidak lahir dari kedekatannya
dengan penguasa, melainkan dari keberaniannya menjaga independensi di hadapan
kekuasaan.
Kisah tersebut menjadi cermin bagi kehidupan berbangsa di Indonesia. Tidak
sedikit ulama yang hari ini lebih sering terlihat di lingkungan istana,
kementerian, atau panggung-panggung politik daripada di pesantren, masjid, dan
majelis ilmu. Tentu tidak semua kedekatan dengan pemerintah adalah sesuatu yang
keliru. Dalam batas tertentu, ulama memang perlu berdialog dengan penguasa
untuk menyampaikan aspirasi umat dan memberikan nasihat. Namun, persoalan
muncul ketika kedekatan itu mengikis daya kritis sehingga ulama lebih sibuk
membela kekuasaan daripada membela kepentingan rakyat.
Sebaliknya, sejarah Indonesia juga mencatat banyak ulama yang memilih tetap
berada di tengah masyarakat. Mereka membangun pesantren, mengajar santri,
mendampingi kaum kecil, dan berbicara apa adanya tanpa takut kehilangan jabatan
atau fasilitas. Justru karena menjaga jarak dari kekuasaan, suara mereka lebih
dipercaya oleh masyarakat.
Karena itu, kisah Syekh Bahauddin Walad tidak perlu dipahami
secara harfiah bahwa ulama sama sekali tidak boleh memasuki istana. Yang lebih
penting adalah menjaga posisi moral. Jika suatu saat seorang ulama datang ke
istana, hendaknya ia datang sebagai pemberi nasihat, bukan pencari kedudukan;
sebagai penyampai kebenaran, bukan penyedia legitimasi bagi setiap kebijakan
penguasa.
Pada akhirnya, martabat ulama tidak ditentukan oleh seberapa sering ia
difoto bersama pejabat atau seberapa dekat ia dengan pusat kekuasaan. Martabat
ulama diukur dari keberaniannya mengatakan yang benar di hadapan penguasa,
keberpihakannya kepada rakyat yang lemah, serta kesetiaannya pada ilmu dan
akhlak. Sebab, ketika ulama lebih mencintai istana daripada madrasah, yang
dikhawatirkan bukan hanya hilangnya kewibawaan ulama, tetapi juga hilangnya
suara moral yang seharusnya menjadi penuntun bangsa.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
Ahmad Chuvav Ibriy
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik