Loading...
Tempat Ulama di Madrasah, Bukan di Istana?
03/07/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Sebuah Cermin bagi Ulama Negeri Ini

 

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

Dalam salah satu status Facebooknya, KH. Husen Muhammad menuturkan kisah yang sangat menarik tentang Syekh Bahauddin Walad, ayah dari Maulana Rumi. Melalui kisah tersebut, beliau mengajak pembaca merenungkan hubungan antara ulama dan kekuasaan. Dikisahkan, ketika Syekh Bahauddin tiba di Baghdad dan diundang Khalifah untuk singgah di istana, beliau justru meminta diantarkan ke sebuah madrasah atau zawiyah. Dengan kalimat yang kemudian menjadi sangat terkenal, beliau menegaskan, "Tempat ulama bukan di istana, tetapi di madrasah." Kisah sederhana ini menyimpan pesan moral yang sangat kuat dan tetap relevan untuk menjadi bahan renungan bagi kehidupan berbangsa hingga hari ini.Madrasah di sini bukan sekadar bangunan sekolah. Ia melambangkan ruang pengabdian kepada ilmu, pendidikan, pembinaan umat, dan kebebasan moral seorang ulama. Dari tempat itulah seorang ulama menjaga jarak yang sehat dengan kekuasaan agar nasihatnya tetap jernih dan kritiknya tetap didengar.

Ketika Khalifah kemudian mengirimkan hadiah berupa kuda, emas, dan perak, Syekh Bahauddin juga menolaknya dengan penuh kesantunan. Bahkan beliau mengingatkan bahwa penguasa yang hidup dalam kemewahan sementara rakyat masih bergelut dengan kemiskinan layak menerima kritik, bukan pujian. Sikap seperti ini menunjukkan bahwa kehormatan seorang ulama tidak lahir dari kedekatannya dengan penguasa, melainkan dari keberaniannya menjaga independensi di hadapan kekuasaan.

Kisah tersebut menjadi cermin bagi kehidupan berbangsa di Indonesia. Tidak sedikit ulama yang hari ini lebih sering terlihat di lingkungan istana, kementerian, atau panggung-panggung politik daripada di pesantren, masjid, dan majelis ilmu. Tentu tidak semua kedekatan dengan pemerintah adalah sesuatu yang keliru. Dalam batas tertentu, ulama memang perlu berdialog dengan penguasa untuk menyampaikan aspirasi umat dan memberikan nasihat. Namun, persoalan muncul ketika kedekatan itu mengikis daya kritis sehingga ulama lebih sibuk membela kekuasaan daripada membela kepentingan rakyat.

Sebaliknya, sejarah Indonesia juga mencatat banyak ulama yang memilih tetap berada di tengah masyarakat. Mereka membangun pesantren, mengajar santri, mendampingi kaum kecil, dan berbicara apa adanya tanpa takut kehilangan jabatan atau fasilitas. Justru karena menjaga jarak dari kekuasaan, suara mereka lebih dipercaya oleh masyarakat.

Karena itu, kisah Syekh Bahauddin Walad tidak perlu dipahami secara harfiah bahwa ulama sama sekali tidak boleh memasuki istana. Yang lebih penting adalah menjaga posisi moral. Jika suatu saat seorang ulama datang ke istana, hendaknya ia datang sebagai pemberi nasihat, bukan pencari kedudukan; sebagai penyampai kebenaran, bukan penyedia legitimasi bagi setiap kebijakan penguasa.

Pada akhirnya, martabat ulama tidak ditentukan oleh seberapa sering ia difoto bersama pejabat atau seberapa dekat ia dengan pusat kekuasaan. Martabat ulama diukur dari keberaniannya mengatakan yang benar di hadapan penguasa, keberpihakannya kepada rakyat yang lemah, serta kesetiaannya pada ilmu dan akhlak. Sebab, ketika ulama lebih mencintai istana daripada madrasah, yang dikhawatirkan bukan hanya hilangnya kewibawaan ulama, tetapi juga hilangnya suara moral yang seharusnya menjadi penuntun bangsa.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb

Ahmad Chuvav Ibriy

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik