Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Pernyataan Kiai Musta'in Syafi'i bahwa sekitar 90 persen kiai NU hubbud dunya atau cinta dunia patut kita renungkan. Kritik terhadap kondisi internal NU tentu penting. Bahkan kritik dari dalam adalah bagian dari tradisi islah dan amar ma'ruf nahi munkar.
Namun, izinkan saya berbeda pendapat: tidak begitu!
Jangan sampai kritik terhadap sebagian perilaku kiai kemudian berubah menjadi generalisasi terhadap mayoritas kiai NU. Sebab, di balik hiruk-pikuk politik organisasi, perebutan jabatan, kepentingan kekuasaan, dan berbagai persoalan yang belakangan muncul, masih sangat banyak kiai NU yang hidup dalam kesederhanaan, zuhud, khumul, dan wara'i.
Mereka tidak ramai di media sosial. Tidak sibuk mencari panggung. Tidak mengejar jabatan. Tidak menjadikan popularitas sebagai ukuran keberhasilan. Mereka mengajar santri dari pagi hingga malam, mengurus pesantren, membimbing masyarakat, menerima tamu, memimpin pengajian, dan menjalani kehidupan dengan sederhana.
Bahkan sebagian dari mereka mungkin tidak dikenal oleh publik nasional.
Inilah persoalannya: kita sering mengukur wajah NU dari mereka yang paling terlihat, bukan dari mereka yang paling banyak berkhidmah.
Kiai yang sering muncul di media belum tentu mewakili keseluruhan kiai NU. Demikian pula kiai yang terlibat dalam kontestasi politik organisasi tidak otomatis mewakili seluruh tradisi kepesantrenan NU.
Karena itu, kalau ada kiai yang terlibat dalam perebutan jabatan, jangan kemudian seluruh kiai NU disebut hubbud dunya. Kalau ada elite NU yang terlalu dekat dengan kekuasaan, jangan seluruh pesantren NU dituduh telah kehilangan kezuhudannya.
Itu tidak adil.
Dalam Islam, zuhud juga tidak berarti seseorang harus miskin atau tidak boleh memiliki harta. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa hakikat zuhud berkaitan dengan kedudukan dunia di dalam hati. Seseorang bisa memiliki dunia, tetapi hatinya tidak diperbudak oleh dunia.
Allah berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia.”
(QS. Al-Qashash: 77)
Maka memiliki rumah yang layak, kendaraan, pesantren besar, lembaga pendidikan, atau bahkan kedudukan publik tidak otomatis berarti hubbud dunya.
Ukuran hubbud dunya adalah ketika dunia menguasai hati dan seseorang rela mengorbankan kebenaran, amanah, keadilan, dan kehormatan agama demi kepentingan duniawi.
Sebaliknya, ada orang yang secara lahiriah sederhana tetapi hatinya sangat terikat kepada dunia. Ada pula orang yang memiliki banyak fasilitas, tetapi semuanya digunakan untuk kepentingan umat.
Karena itu, jangan menjadikan penampilan sebagai satu-satunya ukuran kezuhudan.
Yang juga perlu kita ingat, tradisi pesantren NU mengenal istilah khumul. Kiai yang khumul tidak selalu ingin dikenal. Ia bahkan merasa cukup apabila santrinya tumbuh menjadi orang baik, masyarakatnya mendapatkan manfaat, dan amalnya diterima Allah Swt.
Ada kiai yang tidak pernah mengejar jabatan struktural, tetapi puluhan tahun mendidik generasi. Ada kiai yang tidak pernah menjadi pejabat, tetapi ribuan orang datang meminta nasihat. Ada kiai yang tidak memiliki panggung politik, tetapi doanya menjadi tempat masyarakat mencari ketenangan.
Mereka ada. Banyak. Hanya saja mereka tidak selalu viral.
Karena itu, saya kira kita harus berhati-hati menggunakan angka seperti “90 persen”. Angka sebesar itu bukan sekadar kritik. Ia membawa konsekuensi moral dan psikologis yang sangat besar. Jika tidak didukung ukuran dan metodologi yang jelas, angka tersebut mudah berubah menjadi stigma terhadap komunitas yang sangat luas.
Apalagi NU bukan hanya elite PBNU. NU adalah kiai kampung, pengasuh pesantren, guru madrasah, ustaz, imam masjid, pengurus ranting, warga Nahdliyin, dan jutaan keluarga yang menjaga tradisi keislaman dari generasi ke generasi.
Mereka tidak pantas ikut menanggung stigma hanya karena perilaku sebagian orang yang kebetulan memiliki posisi strategis dalam organisasi.
Kritik tentu tetap diperlukan.
Kalau ada kiai yang mengejar jabatan, kritiklah perilakunya. Kalau ada transaksi kepentingan, kritiklah transaksinya. Kalau ada penyalahgunaan amanah, bongkarlah penyalahgunaannya. Kalau ada politik uang, lawan politik uangnya.
Tetapi jangan mengatakan seluruh atau hampir seluruh kiai NU telah rusak hanya karena kita sedang kecewa melihat perilaku sebagian elite.
NU tidak boleh kehilangan husnuzan, tetapi juga tidak boleh kehilangan daya kritis.
Kita membutuhkan keduanya: adab dalam mengkritik dan keberanian dalam melakukan islah.
Justru di tengah suasana Muktamar NU ke-35 yang penuh perhatian publik seperti sekarang, kita membutuhkan narasi yang menyehatkan. Jangan sampai kritik terhadap politik organisasi membuat masyarakat kehilangan kepercayaan kepada seluruh kiai NU.
Sebab masih banyak kiai yang tidak tertarik dengan gemerlap kekuasaan. Masih banyak kiai yang memilih hidup sederhana. Masih banyak kiai yang menjaga jarak dari konflik kepentingan. Masih banyak kiai yang mengajarkan kepada santrinya bahwa jabatan adalah amanah, bukan kehormatan yang harus diperebutkan.
Mereka mungkin tidak memiliki pasukan media sosial.
Mereka tidak punya buzzer.
Mereka tidak sibuk membangun citra.
Tetapi mereka tetap mengajar.
Tetap berdoa.
Tetap membimbing umat.
Tetap hidup sederhana.
Dan tetap istiqamah dalam khidmah.
Itulah wajah NU yang jangan sampai kita lupakan.
Maka, jika ada yang mengatakan 90 persen kiai NU hubbud dunya, saya memilih mengatakan: jangan buru-buru memvonis.
Mari kita kritik yang memang harus dikritik, tetapi jangan menghapus jasa dan ketulusan ribuan kiai yang sepanjang hidupnya justru mengajarkan zuhud, wara', tawadhu', dan khidmah.
Sebab NU bukan hanya mereka yang sedang berebut panggung.
NU juga adalah mereka yang diam-diam menjaga umat tanpa pernah meminta panggung.
Dan mungkin, justru dari kiai-kiai yang khumul itulah masa depan NU akan kembali menemukan jalan pulangnya.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
Gresik, 22 Agustus 2026
AHMAD CHUVAV IBRIY