Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Pernyataan Iran tentang “daftar negara sahabat” yang bebas melintas di Selat Hormuz seharusnya tidak dibaca sebagai informasi biasa. Ia adalah bahasa kekuasaan—bahasa geopolitik—yang selalu mengandung pesan tersembunyi.
Dan ketika Indonesia tidak disebut, pertanyaan pun muncul: ini hal biasa, atau justru tanda bahwa kita tidak diperhitungkan?
Antara Netralitas dan Ketidakterlihatan
Selama ini kita bangga dengan politik luar negeri “bebas aktif”. Kita tidak tunduk pada blok mana pun, tidak menjadi satelit kekuatan global, dan tidak ikut arus konflik besar dunia. Namun dalam praktiknya, sering kali “bebas aktif” itu tergelincir menjadi sekadar “bebas”—tanpa benar-benar “aktif”.
Dalam konteks konflik Teluk, Indonesia memang tidak berada di barisan Amerika Serikat, tetapi juga tidak berdiri dekat dengan Iran. Kita seperti berdiri di pinggir gelanggang: tidak ikut bertarung, tetapi juga tidak cukup kuat untuk mempengaruhi arah pertarungan.
Akibatnya, kita tidak dianggap musuh—tetapi juga tidak dilihat sebagai sahabat strategis.
Netral Itu Baik, Tapi Tidak Cukup
Ada anggapan bahwa tidak disebutnya Indonesia adalah hal yang aman. Kita tidak terseret konflik, tidak ikut risiko militer, dan tetap menjaga hubungan dengan semua pihak.
Benar. Tapi keamanan tanpa pengaruh adalah kemewahan semu.
Dalam dunia yang diatur oleh kepentingan energi dan militer, seperti di sekitar Selat Hormuz, yang dihitung bukan sekadar sikap netral, melainkan posisi tawar.
Pertanyaannya:
Apa posisi tawar Indonesia dalam percaturan ini?
Kita bukan produsen minyak utama dunia. Kita bukan kekuatan militer global. Bahkan dalam diplomasi Timur Tengah, suara kita sering kalah nyaring dibanding negara-negara kecil yang lebih berani mengambil sikap.
Ilusi Kedekatan dan Realitas Kepentingan
Sebagian orang mungkin tergoda menyederhanakan: bahwa Indonesia tidak disebut karena terlalu dekat dengan Barat, bahkan dituduh “sejalan” dengan Israel melalui orbit Amerika Serikat.
Ini penyederhanaan yang keliru.
Indonesia secara resmi tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan secara konsisten mendukung perjuangan Palestina. Namun dalam praktik global, kita tetap berinteraksi dengan sistem ekonomi dan keamanan yang banyak dipengaruhi oleh Amerika Serikat.
Di sinilah realitas berbicara:
Dunia tidak dibagi secara hitam-putih antara kawan dan lawan. Ia lebih sering diwarnai abu-abu kepentingan.
Dan dalam wilayah abu-abu itu, Indonesia belum berhasil menjadikan dirinya aktor yang menentukan.
Bebas Aktif: Antara Prinsip dan Keberanian
“Bebas aktif” seharusnya bukan sekadar slogan diplomasi, melainkan strategi peradaban. Bebas dari tekanan, tetapi aktif membentuk arah.
Jika aktif, maka Indonesia:
bisa menjadi mediator konflik ;
bisa menawarkan inisiatif perdamaian ; dan
bisa membangun poros negara-negara non-blok yang berpengaruh.
Namun jika hanya bebas tanpa aktif, maka kita hanya akan:
menjadi penonton ;
menjadi pasar ; dan
menjadi objek dari keputusan global.
Dan dalam kondisi seperti itu, wajar jika kita tidak masuk dalam “daftar sahabat” siapa pun.
Penutup: Saatnya Mengoreksi Arah
Tidak disebutnya Indonesia oleh Iran bukanlah penghinaan. Tapi juga bukan prestasi.
Ia adalah cermin.
Cermin bahwa kita belum cukup penting untuk diperhitungkan dalam percaturan strategis global. Cermin bahwa netralitas kita belum menjelma menjadi kekuatan.
Maka yang perlu kita renungkan bukan:
“Mengapa kita tidak disebut?”
Tetapi:
“Apakah kita memang sudah layak untuk disebut?”
Jika jawabannya belum, maka tugas kita bukan mengeluh, melainkan membangun—kekuatan ekonomi, keberanian diplomasi, dan kemandirian sikap.
Sebab dalam dunia yang keras ini, yang dihormati bukan yang netral, tetapi yang bernilai.
Dan nilai itu tidak datang dari slogan, melainkan dari keberanian mengambil peran.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
Gresik, 6 Syawal 1447 H / 26 Maret 2026 M.
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik JATIM