Loading...
TKA Mumtaz dan Akhlak Jayyid: Mengapa Harus Dipertentangkan?
31/05/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

Belakangan ini muncul perdebatan yang cukup ramai di media sosial. Sebagian orang menganggap nilai TKA (Tes Kemampuan Akademik) bukanlah indikator penting dalam menilai kualitas pendidikan. Bahkan ada yang berpendapat bahwa ukuran utama keberhasilan pendidikan adalah akhlak, bukan nilai akademik. Sekilas pernyataan ini terdengar menarik. Namun persoalannya menjadi berbeda ketika akhlak dan prestasi akademik diposisikan seolah-olah saling berlawanan.

Padahal dalam hakikatnya, pendidikan tidak pernah bertujuan memilih salah satu di antara keduanya. Pendidikan justru berusaha memadukan kecerdasan intelektual dan kemuliaan karakter dalam diri peserta didik.

TKA memiliki fungsi yang jelas. Ia digunakan untuk mengukur sebagian kemampuan akademik siswa, seperti kemampuan bernalar, memahami konsep, membaca, menulis, berhitung, dan menyelesaikan masalah. Hasil TKA memang tidak menggambarkan seluruh potensi seorang anak. Namun bukan berarti ia tidak penting. Sama seperti termometer yang tidak bisa menggambarkan seluruh kondisi kesehatan seseorang, tetapi tetap berguna untuk mengetahui suhu tubuhnya. Demikian pula TKA adalah salah satu alat ukur, bukan satu-satunya ukuran.

Di sisi lain, akhlak merupakan fondasi yang menentukan arah penggunaan ilmu. Ilmu yang tinggi tanpa akhlak dapat melahirkan kesombongan, manipulasi, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, bahkan penindasan terhadap sesama. Sejarah menunjukkan bahwa banyak kerusakan besar bukan dilakukan oleh orang bodoh, melainkan oleh orang-orang cerdas yang kehilangan kompas moral.

Namun kita juga harus jujur bahwa akhlak yang baik tanpa didukung ilmu pengetahuan sering kali membuat seseorang sulit memberikan kontribusi yang optimal bagi masyarakat. Niat baik saja tidak cukup untuk membangun bangsa. Dunia membutuhkan guru yang berakhlak sekaligus menguasai ilmu pendidikan, dokter yang berakhlak sekaligus memahami ilmu kedokteran, pemimpin yang berakhlak sekaligus memiliki kemampuan berpikir strategis, dan ulama yang berakhlak sekaligus memiliki kedalaman ilmu agama.

Karena itu, memuji akhlak tidak perlu dilakukan dengan merendahkan prestasi akademik. Sebaliknya, menghargai prestasi akademik juga tidak boleh membuat kita mengabaikan pembentukan karakter. Keduanya bukan musuh yang harus dipertentangkan, melainkan pasangan yang harus berjalan beriringan.

Dalam tradisi Islam, tujuan pendidikan sejak awal memang mencakup dua dimensi tersebut. Para ulama berbicara tentang pentingnya ilmu sekaligus adab. Bahkan sering dikatakan bahwa ilmu tanpa adab akan kehilangan keberkahannya, sedangkan adab tanpa ilmu akan kehilangan daya dan kemanfaatannya. Karena itulah para pendidik terdahulu tidak hanya mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga bagaimana ilmu itu digunakan untuk kebaikan.

Maka ketika ada siswa memperoleh nilai TKA yang tinggi, berikan apresiasi sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras dan prestasinya. Ketika ada siswa yang menunjukkan akhlak terpuji, berikan penghargaan yang sama karena karakter baik juga merupakan capaian pendidikan yang sangat berharga. Jangan sampai kita terjebak dalam dikotomi yang tidak perlu.

Pendidikan yang berhasil bukanlah pendidikan yang hanya menghasilkan anak-anak pintar, juga bukan yang hanya menghasilkan anak-anak baik. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang melahirkan generasi yang mumtaz dalam ilmu dan jayyid dalam akhlak: cerdas pikirannya, luhur budinya, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.

Sebab pada akhirnya, akhlak adalah kompas yang menunjukkan arah perjalanan, sedangkan ilmu adalah kendaraan yang membawa kita menuju tujuan. Tanpa kompas, kita mudah tersesat. Tanpa kendaraan, kita sulit mencapai tujuan. Pendidikan yang sejati membutuhkan keduanya.